Allahuakbar!!

Ya Allah… Betapa jauhnya diriku dari-Mu saat ini…

Aku tak lagi menyentuh air suci-Mu tuk berwudhu…

Aku tak lagi menyenandungkan nama-Mu di dalam hembusan nafasku…

Tak lagi mengingat-Mu dalam langkah hidupku…

Tak pula mengucap nama-Mu sebelum tidurku… Seolah – olah aku beigtu yakin esok pagi pasti akan terbangun kembali dari mati sesaatku…

Ya Allah, betapa jauhnya hamba-Mu ini terperosok… Jauh ke dalam kenistaan… Kenistaan yang telahmembutakan hatiku…

Aku.. terpedaya oleh hal-hal yang dulu tak pernah memperdayaiku sedikitpun…

Ya Allah…

Dulu… Aku selalu menangis dalam sholatku…

Dulu… Jantungku bergetar begitu mendengar Asma-Mu disebut…

Dulu aku bahagia saat Adzan-Mu dikumandangkan… Karena berarti aku dapat bertemu dan bercerita kembali kepada-Mu…

Bercerita segala resah gelisahku… dan juga segala mimpi dan inginku…

Ya Allah…

Aku mohon Kau ampuni aku…

Sayangi aku…

Miliki aku lagi seperti dulu… Jangan tinggalkan aku Ya Allah…

Maafkan aku yang sangat hina ini…

Maafkan ya Allah…

Maafkan…

Advertisements

Mari Mengingat Tuhan…

Akuuu lagi terheran heran… kenapa begituu banyak orang yang sangat membanggakan dirinya sendiri dengan kedudukan dan pengalaman mereka? Selalu mencari cari alasan untuk menjatuhkan, dan mencari aman kalau dirinya terserang??

Apakah mereka begitu buta hati? buta perasaan?

Apakah mereka malu untuk menundukkan hati?

Apakah mereka slalu merasa merekalah segala-galanya?

Mereka lupa… di atas langit masih ada langit…

Mereka lupa… di saat mereka merasa berhak atas segalanya… disitulah kehancuran pertama mereka…

Mereka lupa… banyak hal yang jauh lebih penting dari apa yang ada di hari ini…

Kenapa harus merasa rendah di saat kita menundukkan hati?

Kenapa harus merasa lemah di saat kita membuka hati?

Kenapa harus merasa takut dimanfaatkan di saat kita saling menolong?

Kosongnya hati karena kita ngga tahu mau kemana hidup ini… Takut dan resahnya hati karena kita lupa siapa atasan kita sesungguhnya…

TUHAN!! Bukan manusia dengan segala embel embel yang jadi topeng penutup diri…

Aaaarrrrggghhh…!! aku sangat kesal!!!


LiVe YouR BesT Life

I Will Not Die an Unlived Life.

I Will Not Live In Fear of Falling or Catching Fire.

I Choose to Inhabit My Days, to Allow My Living to Open Me,

To Make Me Less Afraid, More Accessible, To Loosen My Heart Until It Becomes A Wing, A Torch, A Promise.

I Choose to Risk My Significance, to Live so That Which Came to Me as a Seed Goes to The Next as Blossom, and That Which Came to Me as Blossom, Goes on as Fruit.

One thing for sure yang ngebikin we feel more ALIVE is that When the world turns back on U, U’ll know that you have someone to rely on… someone who U can talk to… And That’ll be enough….

Friends… Bestfriends… That’s What we really need…

“WELCOME BACK SHEVA”

Setelah bernegosiasi sekian lama bernegosiasi dengan chelsea, akhirnya Milan bisa mengatakan “SHEVA KEMBALI BERSAMA KAMI”, sang kapten timnas Ukrainia itu bisa tersenyum kembali dan merasa terlahir kembali bersama Milan dan berusaha bermain seperti pertama kali bersama Milan.

Akhirnya setelah menunggu selama 2 tahun Sheva kembali menjadi pemain Milan lagi, Sheva mengatakan kepada acmilan.com dan milan channel, “ Ia merasa bahagia, ia berharap negosiasi berjalan lancar dan tanpa hambatan apapun. Tapi sekarang negosiasi telah berakhir dan ia merasa bahagia sekali.”

Sheva diharapkan tiba di Milan hari minggu waktu setempat, segera mengadakan tes kesehatan, kemudian bergabung bersama rekan setimnya untuk berlatih. Emosi, sensasi selama dua tahun ini yang dialami Sheva, sekarang Sheva tinggal menghitung emosi dia, dan hasrat untuk balas dendam untuk meraih striker terbaik terdunia kembali. Sheva telah mencetak 173 gol bersama rossoneri ( julukan utk ac.milan ) termasuk penalty untuk final liga champion tahun 2003 di Manchester dan goal yang tidak disahkan saat melawan Barcelona di semifinal liga champion tahun 2006. only awaits to be ajourned, for the joy and felicity of all the Milan fans.

sumber : acmilan.com

Diam dan berfikir…

Ada baiknya berhenti sejenak dan hanya diam dan berfikir tentang keberanian. Bukan keberanian menentang penjajah belanda, atau berdemo di depan kedutaan malaysia. Atau juga mencerca dan merasa jadi orang paling benar dan baik didunia. Tapi berani untuk melihat siapa diri kita sebenarnya. Dan berani untuk di kritik dan mengevaluasi. Berani untuk tidak egois dan berpikir bahwa aku hanya ingin bahagia. Ah, bukan hanya berpikir namun juga membuat semuanya menjadi sesuatu yang benar-benar bahagia.

Pernahkan seseorang begitu yakin yang dipilihnya adalah yang terbaik untuk dirinya? Apakah nantinya akan menjadi penyesalan jika semuanya tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan? Lalu beranikah kita menyalahkan diri dan merubahnya dengan sangat tidak egois???lalu dimanakah keberanian kita? Apa keberanian itu??

Tentukan!

Apa yang menjadi skala prioritas bagi kehidupan kita? Hubungan dengan tuhan, dengan manusia atau malahan kerja dan ambisi. Aku berpikir, memang cara termudah melarikan diri dari kebingungan dan ketidak pastian dari menjalin hubungan dengan sesama manusia adalah dengan tidak melakukannya sama sekali. Dan kerja. Keep yourself focus in one thing. Tapi terima saja kenyataan, we are human after all.

Saat kau begitu yakin untuk berhenti mengejar segala keinginan dan ambisi, ada saja rahasia tuhan yang menarikmu kembali mengejar ambisimu. Apa yang sebenarnya Tuhan inginkan.

Aku tak tahu apakah harus gembira atau sedih malam ini. Sebagai teman, aku senang untuk semuanya…tapi aku tahu, alarmnya sudah mulai berbunyi. Ini akan menjadi perjalanan tanpa akhir… Dan akhirnya kembali lagi, aku dan ambisi gilaku…

Unrequited Love

2046_2

A reciprocated reply would make a world of difference, but this unrequited love has sapped the light out of you, now everything doesn’t matter anymore. Taking its toll on you, as every misleading beacon in the midsts of this mist sends a happy spree of hope like a surge of dope into your veins, and the withdrawal seems to kill a little bit of you every time.

This happiness is a drug and in its depression is the only comfort it can offer. How much before you break? How many breaks before you can muster the strength and declare that you had enough? or How long more can you wait before you tell that person how you really feel? For love that is one way, it is to love, but to love in vain…  Get the rejection out of the way and move on with life, wallow in this misery and taste the bitterness of loneliness. But what if the love is requited? I guess you’ll never know till you try, so wear your heart on your sleeve before it is too late, realize the fear that your throbbing heart may eventually cool and be shielded by a wall of ice built by an architect of pain. And it will take a tremendous amount of amourous heat to melt that coldness away, if ever you are to love again.

(Dedicated to one of my readers who requested a writeup on a one-way love affair)